 | Klo suka ya dilihat dan lakukan sesuatu | |
melakukan sesuatu membuat semuanya tidak akan sia-sia, sekalipun sesuatu itu adalah diam...yang penting bertujuan
Malam hari, di sebuah rumah sakit milik pemerintah. Saya terpaksa naik pake lift ke lantai tiga untuk membeli obat untuk M. Pemilihan lantai tiga bukan tanpa alasan, tapi lebih karena di situ terdapat satu-satunya apotek yang masih buka pada waktu larut seperti ini.
Layaknya rumah sakit, suasana perjalanan dari kamar pasien di lantai satu menuju apotek terbilang sepi. Bahkan cenderung mencekam, maklum ini kan rumah sakit. Bau-bau obat, ditambah lorong-lorong panjang tak berujung, membuat bulu kuduk merinding setengah.
Dengan berjalan cepat khas cabang atletik, akhirnya Saya sampai juga di Apotek. Di sana bertemu dua ibu-ibu yang lagi mengantri menebus obat. Ternyata terdapat perbincangan diantara dua ibu-ibu itu. Dan Saya dengan sengaja mendengarkannya.
Ibu 2: Bu 1, tungguin saya, kebawahnya bareng ya, mau ke kamar pasien kan? Ibu 1: Aduh bu 2 saya buru-buru Ibu 2: Sebentar doang kok bu, tungguin ya?
Saat itu kondisinya, obat ibu 1 sudah selesai diracik. Maka sudah waktunya dia meninggalkan apotek dan kembali ke kamar pasien. Namun ibu 2 seperti tidak rela dengan kepergian ibu 1. Kemudian ibu 2 menegaskan keinginannya itu.
"Bu 1, tungguin saya ya!", kata ibu 2 dengan gerakan kaki yang tidak sabaran, seperti pengen pipis.
Maklum, saat itu obat ibu 2 tidak kunjung jadi. Akhirnya dengan inisiatif dan sedikit ingin memecahkan suasana, maka Saya nyeletuk menyindir ibu 2 itu.
"Pulang sendiri aja bu, emang kenapa sih?", kata S dengan sok polos.
Saat itu juga, Saya langsung merasa seperti disemprot blangwir. Ibu 2 memarahi habis-habisan.
"Kamu gak tau sih rasanya jadi perempuan!" "Perempuan itu penakut tahu" "Gak seperti laki-laki yang berani kalau jalan sendirian malem-malem" "Kamu sih enak jadi laki-laki"
Aaahhhh, sungguh Saya langsung terpaku mendengar pernyataan ibu 2. Saya memang tidak pernah tahu rasanya menjadi perempuan...
silahkan ditonton dan lihat sendiri...
Baru aja saya nonton film dokumenter tentang rokok di Indonesia, judulnya "Sex, Lies, and Cigaretes". Pembuatnya orang amerika, namanya Christof Putzel. Film keluaran tahun 2011 itu ngegambarin kalau Indonesia itu adalah negara paling jelek dalam hal regulasi tentang rokok. Mulai dari UUD, sampai kepekaan masyarakatnya. Rokok digambarkan sebagai penyebab kesehatan buruk dan kemiskinan di Indonesia. Putzel terutama menyorot tentang dijualnya rokok secara bebas di Indonesia, sampai-sampai anak usia sekolah pun bisa membeli rokok.
Memang sih, yang ditampilkan dalam "Sex, Lies, and Cigaretes" itu sebuah kenyataan tapi saya gak suka ketika Indonesia dianggap negara yang paling jelek. Bukan karena masalah nasionalisme saya, namun ini lebih karena Putzel membandingkan Indonesia dengan Amerika dalam hal rokok. Dalam film tersebut, Amerika dibuat sebagai negara yang standart hukum yang paling tepat untuk rokok. Kriterianya adalah pembeli harus di atas 21 tahun, kemudian harga rokok harus tinggi (12 dollar=Rp.12rb). Lalu di jalan-jalan juga tidak boleh ada iklan rokok.
Seolah-olah Amerika lah terbaik, padahal budaya merokok di Indonesia kan juga karena orang-orang Amerika. Marlboro salah satu buktinya. Okelah kalau ada yang bilang dari dulunya juga orang Indonesia sudah merokok. Bisa juga betul. Tapi masalahnya adalah, Amerika kan juga menambah jumlah merk rokok di Indonesia kan?, Ya sama saja. Blom lagi budaya merokok yang ditularkan lewat film-film Hollywood. Bahkan lewat film aspek yang lebih luas seperti budaya minum-minuman beralkohol di Indonesia juga bisa jadi karena Amerika. Padahal minuman beralkohol juga tidak kalah bahayanya dibandingkan rokok.
Film "Sex, Lies, and Cigaretes" seperti tidak sadar kalau Amerika adalah salah satu penyebab budaya Indonesia berubah (dalam hal ini ke arah yang dianggap buruk). Kalau mau berimbang, harusnya Putzel juga menyebutkan kalau Amerika juga punya keburukan yang bahkan bisa membuat negara lain terlihat lebih buruk.
Terlepas dari semua yang saya tulis di atas, film ini secara keseluruhan bagus. Mulai dari pengambilan gambar, suara, sampai alur cerita benar-benar menarik. Dari awal penonton dibawa untuk bisa memahami begitu kejamnya rokok dalam hal membunuh manusia dan menambah penderitaan dari segi keuangan. Kehebatan lain dari film ini yaitu juga dapat ditonton baik oleh perokok, maupun tidak merokok, haha...
Alah, paling juga anjing budug sebelah yang gongong. Selebihnya sih lo tinggal jalan biasa aja "lagian anjingnya juga dirante kok" Iya, lagian lo takut amat sih "Gw nih udah pernah lewat situ beberapa kali, orang aja yang pada bilang di situ ada setan, padahal mah cuma anjing" Mana ada setan, ini udah jaman moderen "Noh, dengerin setannya bilang langsung, haha" Sialan lu, eh tapi pernah ya waktu itu gw lewat situ, anjingnya gak gong gong .......................... "Hus yang bener lo" Iya, beneran waktu itu malem jum'at pas gw abis pulang kerja "...... ah gw jadi merinding nih, terus terus" ya gitu, gw waktu itu sih gak mikirin ada apa-apa, namanya juga lewat rumah kosong "yah, emang itu rumah kosong?, lah kan yang tinggal disitu nenek-nenek, yang suka gong-gong kan anjingnya dia" yeh gmana sih, lo kapan liatnya? "suwer deh, dua hari yang lalu" Ah gmana sih lo, itu kan nenek-nenek udah mati, mangkannya anjingnya budug, gak diurus "yang bener lo?" Iya bener, katanya sih mati penasaran "Wah, pantesan orang pada takut kalo lewat situ ya, emang penasarannya kenapa sih?" Gak tau gw, ah lo kan minta diceritain sih, gw juga jadi merinding nih
 | Cemburu | Dec 2, '11 10:08 AM for everyone |
Dalam salah satu cerpen Mochtar Lubis yang berjudul Cemburu, ada tokoh lelaki mabuk yang menurut saya sungguh dapat mengartikan kata "cemburu" secara komprehensif sekaligus indah. Ini kutipannya:
"Ah, cemburu. Itulah sebuah siksaan yang nikmat, yang menghidupkan jiwamu, memanaskan darah dalam tubuhmu, membuat engkau tak bisa tidur, tak bisa makan, ingin menarik matahari supaya turun dari langit, dan alam menjadi gelap. Akan tetapi jika gelap tiba, dan cemburu lebih hebat menyiksa, engkau ingin membuang bulan, dan membawa siang kembali. Cemburu menyiksa engkau setiap saat, menyuruh engkau berbuat yang berani-berani dan gagah perkasa, dan memasukkan pikiran jahat ke kepalamu, mencuri, memaksa, memperkosa, membunuh. Cemburu menjauhkan engkau dari orang yang engkau cinta, menimbulkan benci dan dendam pada orang yang engkau cintai. Cemburu dengan nikmatnya membuat engkau bermimpi yang indah-indah, menarik engkau bertambah dekat padanya. Ah, cemburu adalah siksaan yang nikmat, menimbulkan cinta dan birahi."
NB: Dalam buku kumpulan cerpen Perempuan
 | tradisi | Oct 10, '11 6:26 PM for everyone |
sungguh aku terlena oleh dingin yang membelai lembut yang pelan-pelan merangsek masuk ke pori-pori kulit ketika hanya ada gelap aku memilih daun kawung dan tembakau mole yang terbakar pelan sungguh tradisi kuno sungguh penyakitan sebenarnya, malu aku pada Arctic Monkey serta layar komputer malu aku pada paru-paru dan batuk-batuk kecil tapi biarlah toh Soekarno pernah bilang: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah! NB: tulisan ini diambil dari http://kelabfiksi.blogspot.com/
 | berpikir | Sep 15, '11 6:04 PM for everyone |
"Cogito Ergo Sum" ujar DescratesKetika manusia sedang mengikat sepatunya, apakah perlu berpikir?, saya rasa tidak atau kalau memang mau dikatakan berpikir, pasti itu adalah serendah-rendahnya berpikir. Alasannya, saya rasa tidak mungkin ada manusia yang pernah sekeras itu memikirkan tentang tali sepatu sebelah mana yang sebaiknya diikat terlebih dahulu?, kanan atau kiri?, dalam hal ini sering kali tidak jadi soal.
Bagaimana bisa dalam salah satu kegiatannya manusia tidak berpikir?. Jawabannya mudah saja karena kegiatan itu dilakukan berulang, terjadi repetisi yang berbulan, menahun dan akhirnya mengakar. Kegiataan tanpa berpikir seperti ini biasa saya sebut dengan "kebiasaan".
Setelah saya berpikir, hehe... Kebiasaan ternyata bukan hanya dilakukan manusia ketika sedang berhadapan dengan hal remeh temeh saja (seperti mengikat tali sepatu). Bahkan terkadang berbagai hal yang dikategorikan sebagai kegiatan esensial pun hanya dijalankan oleh manusia dikarenakan kebiasaan. Contoh termudahnya adalah ibadah sholat.
Sholat, wajibnya dilakukan oleh manusia beriman sebanyak lima kali dalam satu hari. Dari jumlah kegiatannya saja sudah merupakan pengulangan. Belum lagi ada bacaan Al-Fatihah yang selalu dilafalkan di setiap rakaat dalam sholat. Kalau dijumlah, setiap harinya ada 17 kali Al-Fatihah dalam satu hari sholat. Oleh karena berbagai pengulangan dalam sholat itulah, saya sering menyangsikan kalau sholat tidak lebih dilakukan oleh manusia karena kebiasaan semata, tanpa pernah tahu maksud dan tujuan diperintahkan untuk melakukannya.
Bahayanya adalah ketika semua hal yang dilakukan oleh manusia ternyata hanya kebiasaan, tanpa proses berpikir maka jadilah manusia itu orang-orang bodoh. Karena tanpa berpikir, berarti manusia tak akan pernah belajar. Tanpa belajar tentu tak ada ilmu, tak ada pengetahuan yang bisa dijadikan sebagai pegangan kehidupan. Kalau sudah begitu tak ada bedanya lagi antara manusia dengan hewan.
“Barangsiapa yang berpikir sebelum berbuat, akan selalu benar.”, ujar Ali bin Abi Tholib Baik, buruk, benar, salah, semuanya bisa muncul karena manusia berpikir. Karena sesungguhnya, berpikir adalah proses menciptakan kebenaran. Sebagai contoh yaitu ketika saat ini ada seorang wanita yang ketiaknya berbulu dan terlihat, banyak dari kita yang menganggap itu adalah hal yang menjijikan atau hal buruk. Hal ini dibuktikan dengan hilangnya tante Eva Arnaz dari dunia pertelevisian tanah air. Seperti yang kita semua tahu dulu saat zaman Warkop DKI sedang jaya-jayanya, tante Eva kerap terlihat mempunyai bulu ketiak.
Kini di televisi yang muncul adalah Mulan Jamela dengan iklan ketiak mulusnya. Pemikiran manusia pun berubah, kemudian mengkonstruksi seolah-olah ketiak tanpa bulu merupakan idaman semua wanita dan nampak indah jika dilihat pria. Padahal apa salahnya dengan bulu ketiak, toh itu alami. Bukankah itu layaknya rambut di kepala yang memang sudah seharusnya tumbuh ditempatnya. Hanya saja perlu dilakukan perawatan dan pemangkasan agar enak dilihat mata,haha...
Proses berpikir pun kadang bisa membuat hal yang tidak tampak mata, bisa dikatakan sebagai sesuatu yang benar adanya. Contohnya ketika manusia sebenarnya tidak pernah melihat "jiwa/ruh", maka dengan sebuah hasil berpikir yang melihat bahwa manusia bisa bahagia, sedih, akhirnya munculah yang dinamakan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau psikologi. Maka serentak, semua orang meyakini kebenaran adanya "jiwa/ruh" di dalam tubuh manusia. Begitu juga dengan "angin/udara". Dengan melihat tanda-tanda kekuatannya seperti bisa menghancurkan rumah, ataupun membuat ombak cantik di lautan. Kita akan meyakini adanya mereka.
Begitu juga dengan halnya ketika kita berpikir adanya Tuhan, lihat saja keajaiban-keajaiban ciptaannya. Lihatlah gunung, pantai, bukit, lihatlah diri kita sendiri yang dibuat-Nya dapat berpikir.
Di dalam bis, mereka tersenyum kepada handphoneKepada buku, ketika sedang di perpustakaan Kepada komputer jinjing, ketika di rumah makan
Tapi, dihadapan manusia mereka dibuat menangis
Ramai-ramai media membicarakan tentang negara ini, yang kebanyakan pemberitaannya tentang kejelekan pemerintah saja. Ramai-ramai juga pengamat bicara -tentunya karena media mengundangnya- tentang solusi negeri ini, tapi hanya bicara. Para pelaku pemerintahan yang akhirnya panas kemudian juga ikut berbicara menanggapi media dan pengamatnya, tapi lagi-lagi hanya bicara. Saya pun yang di kampus, di kelompok-kelompok diskusi kecil hanya sanggup bicara, hanya mengumbar ide tentang sebuah negara yang harusnya begini yang harusnya begitu.
Pernah saya membayangkan, coba saja kalau saja para pendahulu kita tidak angkat senjata dan berperang melawan tentara Belanda, kalau saja, Bpk. Soekarno dan Hatta -didesak juga oleh pemuda- tidak memproklamirkan kemerdekaan tgl 17 Agustus 1945. Mungkin sampai saat ini kita juga belum merdeka.
Yang dibutuhkan negara ini adalah sebuah langkah nyata, bukan banyak ide brilian namun tanpa realisasi. Contohlah para pendahulu kita -pejuang sebelum kemerdekaan- yang mendahulukan langkah nyata untuk mencapai suatu negara merdeka daripada mempertarungkan ide-ide mereka.
Bahkan sesungguhnya tulisan ini pun hanyalah ide, semoga saya bisa merealisasikannya! Hut RI ke 66
 | Fana | Aug 5, '11 10:19 PM for everyone |
Dia tidak pernah takut oleh cahaya oleh angin oleh hujan
Dia pun tidak pernah pergi dari sini dari situ dari sana
Dia, sebenarnya memang tak pernah ada baik untuk mu dan untuk kita
kemarin (27/7) TVone menyiarkan wawancara bersama Iwan Piliang tentang kasus Nazarudin. Trus TVone nulis di Creditline-nya Iwan Piliang dengan sebutan "aktivis media sosial". Sekilas sih gak ada masalah, tapi kalo dilihat dua kilas ternyata rada aneh. Di zaman smartphone yang ketika ada di wc juga tetep bisa nge-tweet, saya rasa semua orang adalah aktivis media sosial. Bahkan seorang teman dan senior saya yang selalu meramaikan timeline multiply yaitu San Yasdi, dia juga aktivis media sosial,hehe piss...
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah siapa Iwan Piliang sampai-sampai diminta jawabannya tentang kasus Nazarudin?, entahlah saya tidak tahu. Yang jelas penyebutan Iwan Piliang sebagai aktivis media sosial sungguh mebingungkan. Mungkin ada yang menjawab: "Iwan Piliang kan yang mewawancarai Nazarudin waktu itu." Nah kalo gitu pasti timbul pertanyaan lagi, "Kenapa Iwan Piliang bisa wawancara Nazarudin?", ya lagi-lagi jawabannya saya tidak tahu...
Agar pembaca, pemirsa ataupun pendengar lagi-lagi tidak tahu dan bertanya, Andreas Harsono dalam buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme punya cara bagi media massa dalam memberikan penyebutan pada seorang narasumber yang menurut saya cukup baik dan benar:
1. dengan menulis saja pekerjaan dan penelitian si narasumber yang relevan dan berbobot untuk komentar itu. Misalnya: Iwan Piliang, mantan pengelola Media Center DPP Partai Demokrat 2. cantumkan karya orang itu dalam laporan Anda, atau setidaknya cantumkan afiliasinya. Misalnya: Iwan Piliang, pemilik http://blog-presstalk.com/ (sebenarnya blog ini sudah lama tidak diperbaharui, tapi setidaknya blog itulah yang tercantum di akun twitternya @iwanpiliang)
Selain itu Andreas Harsono dalam bukunya itu juga menyoroti penyebutan "pakar", "pengamat" dan "pemerhati" pada narasumber. Sebuah contoh yaitu ketika seorang Denny Sakrie disebut sebagai pengamat musik. Semenjak itu saya selalu memikirkan, "Mengapa Denny Sakrie itu disebut pengamat, apa sih kredibilitasnya?"
Setelah mencari di wikipedia akhirnya ketemu juga kalo Denny Sakrie itu penulis musik yang sudah dari dulu kala. Sampai saat ini dia menjadi kontributor tetap untuk media Tempo, Kompas dan Rolling Stone Indonesia. Nah kalo media-media nulisnya Denny Sakrie sebagai "wartawan musik untuk Rolling Stone Indonesia, Tempo, dll" kan mudah dimengertinya, selain itu juga jadi memperluas wawasan pembaca terhadap si narasumber.
Ya... semoga saja, media massa sekarang terus memperbaiki kualitas siaran/terbitannya. Hal ini penting terutama untuk memberikan edukasi pada pemirsa/pembaca/pendengarnya.
sumber:
yang juga bisa dibaca:
Beberapa minggu ini, saya cukup terkenal dikalangan mahasiswa Jatinangor,haha... indikatornya adalah sms datang dari orang yang tidak dikenal silih berganti (kira-kira satu hari sekali) masuk ke inbox handphone saya yang biasanya sepi. Kok bisa? Padahal saya bukan penjual Maicih, hehe
Saya memang bukan jualan Maicih, tapi saya sekarang menyewakan jasa pindahan dan angkut barang, apalagi sekarang memang momennya pindahan, jadilah saya laku. Ya.. namanya juga usaha,hehe. Padahal modal promosi saya cuma twitter, itu juga gak sampe lebih dari 5 kali nge-tweet. Hasilnya saya bisa dapet pelanggan sekitar 15 orang, mantap gak tuh...
Emang sih sejak ada akun @jatinangorku di twitter, semua informasi apapun tentang Jatinangor yang di mention ke @jatinangorku biasanya langsung di- retweet. Apalagi followers @jatinangorku udah sampe 6500-an orang, ya jadilah informasi tentang jasa pindahan dan angkut barang saya tersebar luas keseluruh penjuru jatinangor. tweet saya begini bunyinya : jasa sewa pick up untuk pindahan kosan 1 kali jalan Rp.60rb (081310132232, lodra)
Nah, selama ini klo ada yang sms ke saya, saya selalu jawab. "ongkos pindahan satu kali jalan itu 60rb". Maksud saya itu, jadi bebas mau yang pindahan 1 orang, 2 orang, 5 orang, sampe 10 orang pun bisa. Asal barangnya muat di mobil pick up saya. Nah abis itu saya tulis lagi di lanjutan sms saya, "klo sama angkut2 barang harganyat jadi 90rb-120rb, itu tergantung beratnya barang dan jauhnya kosan". Nah sms yang ini maksudnya adalah untuk menjangkau kosan-kosan yang tidak bisa dijangkau mobil, seperti Gg. Mawar, Ciseke kecil, dsb. Untuk beratnya barang, maksudnya klo barang-barangnya ada lemari, kasur dll. kan jadinya saya harus nyari temen buat bantuin angkat. Nah duit yang 90-120rb itu maksudnya buat ngasih ongkos temen saya yang udah bantuin.
Tadi sore nih ada orang yang tidak dikenal sms ke saya lagi, mau nanyain sewa pick up buat pindahan. Seperti biasa saya bales dengan sms yang kurang lebih seperti diatas itu. Eh tiba-tiba dia gak bales lagi. Yaudah saya pikir gak jadi.
Tiba-tiba ada sms masuk dari si Ajat (temen yang bantuin saya promosi jasa pickup). Katanya : Dar (panggilan saya), lo dibilang mahal sama followers jatinangorku, liat deh twitternya. Langsung saya buka twitter, eh beneran ada ternyata. Twitnya begini: info angkut barang mobil + jasa pick up yang murah dong. yang 081310132232 mahal. dr mawar ke hegar aja mahal bgt 90rb
weleh-weleh... ternyata orang tidak dikenal yang mau sewa pick up saya itu balesnya ke twitter dan mention si @jatinangorku... padahal pake jasa saya aja beloman, TOOOWEEETT...
Kecewa, ya lumayan sih tapi mau gmana lagi... Yang saya pikirin sih cuma gini : Baru terkenal dikit aja, udah ada orang yang ngeberitain tentang saya dengan begitu caranya. Gmana kalo terkenal banyak, kayak Presiden ya?, wah gak kebayang...
NB: sebagai pelanggan yang baik, berbuatlah seperti pesan yang tertulis di rumah makan padang: klo anda puas ceritakan pada kawan, klo anda tidak puas ceritakan pada kami...
Yang Muda Yang Berusaha...
Sehidup semati dalam sebuah janji, selalu berdua, seperti buaya, begitulah adanya. "Kok buaya sih?" keluh nona memotong pembicaraan. Boi hanya tersenyum kecil, kemudian perlahan ia memegang kedua tangan pujaan hatinya itu. "Di Betawi, Buaya merupakan perlambangan suci sepasang kekasih. Sesungguhnya Buaya itu hanya mempunyai satu pasangan seumur hidupnya. Meskipun terlihat seram, sangar, berandal, namun dia setia memegang janjinya." " Lagi-lagi betawi, huh" "haha, kau masih belum bisa mencintainya kah?, padahal esok hari pernikahan kita" "Tidak juga, aku hanya jadi ingat kejadian itu" Menjelang bulan Ramadhan tahun lalu, nona diajak Boi bersilaturahmi ke rumah enyaknya. Dari depan rumah saja, sudah terlihat keramaian. Maklum saja enyak itu sesepuh kampung betawi, selain itu rumah enyak juga bersampingan dengan masjid agung. Jadi mau tidak mau, rumah yang hanya ditinggali boi dan enyaknya itu kerap ramai ketika ada hari-hari besar betawi. Apalagi dalam anggapan betawi, Ramadhan merupakan bulan istimewa yang paling penuh rahmat. Tentu menyambutnya harus pula istimewa. Enyak ketika itu sedang asyik berada di belakang mengaduk satu kuali gula merah bersama ibu-ibu tetangga. Ketika pasangan mabuk cinta itu masuk ke dapur, langsung saja emak memanggil, "Boi, cepet sini suruh temen cewek lu bantuin enyak, tangan gw udah pegel nih". Nona yang merasa dirinya disebut-sebut oleh enyak, langsung meremas erat tangan boi, "Aduh, aku harus ngapain nih?" "yaudah sana bantuin enyak bikin dodol" Dengan lembut Boi melepaskan remasan tangan Nona, kemudian masuk lagi ke ruang tengah, untuk kemudian keluar ke sebelah membantu bapak-bapak lain yang sedang membersihkan masjid. Alhasil Nona jadi sendirian, dan kalau sudah begini, mau tidak mau Nona harus ikut membantu enyak membuat dodol. Oleh Nona, Diputarnya gula merah itu berkali-kali, mengikuti perintah enyak. Putarannya mulai mencapai puluhan, kemudian ratusan putaran, lalu ribuan, lalu... entahlah mungkin sampai puluhan ribu. Tiba-tiba ditengah kepegalan yang amat sangat mengaduk gula merah, Emak yang suaranya serak-serak tua itu berujar, "Enyak nyuruh Nona ikut bikin dodol tuh bukan mau ngerjain, tapi kalo mau jadi istri orang betawi ya harus gini, harus nyobain bikin dodol". Enyak menambah lagi wejangannya, "Bikin dodol itu tuh butuh kesabaran, ketelatenan dan kekuatan, persis kayak kalo bikin rumah tangga, apalagi kan lu tiga bulan lagi mau nikah sama si Boi, ya semoga ini pelajaran bikin dodol bisa lu inget terus sampe tua sampe mati" Seketika pegal tangan Nona hilang, seiring Enyak memberi wejangan. Rupa-rupanya Nona tahu kalau Enyak itu cuma pengen anaknya dapet perempuan yang baik. Setelah itu, adukan Nona semakin kencang semakin bertenanga, Nona benar-benar bersemangat karena enyak sudah memberi restu pada hubungan mereka. Tak lama dari itu, adzan magrib berkumandang dan itu sekaligus tanda kalau gula merah yang sedari tadi diaduk-aduk itu sudah mengental, menjadi dodol. Kemudian kegiatan dapur otomatis berhenti dan Enyak mengajak Nona untunk sholat di masjid. Sepasang calon menantu dan mertua itu terlihat serasi, kemudian mulai terciptalah canda tawa dalam obrolan mereka menuju masjid. Dari masjid, Boi hanya senyum-senyum saja melihat kedua perempuan kesayangannya itu akrab satu sama lain. Setelah selesai salam, Boi langsung mendatangi Enyak dan Nona yang ada di barisan belakang masjid, “Nyak, Nona Boi anterin pulang dulu yak, gak enak kalo kemaleman”. “Yaudah deh, ati-ati lo yak, lain kali ajak lagi kemari si Nona” “Iya Nyak”, ujar kedua pasangan itu. Sepanjang perjalanan, Nona hanya cemberut sambil memijit-mijit tangannya sendiri. Sedangkan Boi, seperti biasa hanya tersenyum kecil dan kemudian berkata, "Terimakasih Nona".
"Bedanya muslim-muslim di Indonesia dengan di Amerika itu adalah pencariannya, klo di Amerika, Islam itu dicari dulu baru dapat, klo di Indonesia kan karena keturunan", ujar salah satu saudara saya yang sudah 30 tahun di Amerika.
Memang sih itu tidak berlaku umum bagi semua warga Amerika dan Indonesia, tapi sepertinya kebanyakan orang seperti itu. Bapakku pernah bilang, "Untuk masalah agama, kamu jalanin dulu aja apa yang orang tua suruh, setelah itu baru cari tau kenapanya". Nah mungkin saya termasuk yang cuma jalanin aja, tapi pencariannya enggak.
Ini sebenernya masalah serius, bisa jadi "jalanin aja tanpa pencarian" ini lah yang menjadikan kerusuhan-kerusuhan antar umat beragama sering terjadi di Indonesia seperti tragedi Poso sampai Temanggung. Semua itu karena kita selalu mempermasalahkan hal-hal permukaan, hal-hal remeh temeh, perbedaan cara ibadah lah, penyebutan nama lah, dll.
Baru-baru ini saya mencoba sadar,hehe Amin... Setelah saya perhati-perhatiin, dari segitu sedikitnya buku yang numpuk di kamar kosan saya, cuma ada satu buku yang isinya tentang agama. Buku itu tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur'an. Bahaya kan?,
Kok punya Al-Qur'an bahaya?... Bukan punya Al-Qur'annya yang bahaya, tapi yang bikin bahaya tuh karena buku agama yang saya cuma cuma Al-Qur'an doang, sedangkan yang lainnya itu buku kuliah, sama buku Novel. Itu juga saya baru nyadar. Ternyata referensi buku agama saya sedikit banget. Apalagi saya gak paham bahasa arab, jadilah Al-Qur'an cuma buat dibaca, itu juga jarang (Astagfirullah, semoga saya jadi lebih baik di hari-hari berikutnya, amin). Langsung tuh saya jadi kepikiran, orang beragama macam apa saya ini?, Ngakunya sih Islam, tapi referensi buku agamanya cuma satu, Parah!!!
Akhirnya, supaya nggak terus kepikiran dan jadinya merasa bersalah, akhirnya saya pergi ke Togamas (toko buku diskon yang ada di Bandung) dan langsung masuk ke "lorong buku agama". Mungkin ini pertama kalinya saya ke lorong itu. Kemudian cari-cari buku, eh ketemu judulnya Fatimah. Sebenarnya sih entah ini buku agama atau sejarah, yang jelas buku ini adalah tentang anak rosul satu-satunya yang hidup sampai punya anak lagi yaitu Hasan Husain.
Pulang dari Togamas, saya ke kosan langsung baca buku Fatimah, eh gak taunya penulis buku Fatimah ini adalah Ali Syariati yang tidak lain adalah orang Syi'ah. Wah berbeda pandangan nih sama orang Indonesia yang kebanyakan Sunni. Saya pun jadi semakin tertarik baca bukunya dan ternyata bener-bener beda. Perbedaannya, di buku ini Ali bin Abu Tholib (Istri Fatimah yang juga Khalifah ke 4 muslim) itu sangat diidolakan bahkan sampai-sampai seperti tidak menghormati khalifah2 lainnya ( Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan). Ya baru sampe situ pencarian saya, semoga abis ini saya bisa terus mencari dan akhirnya menemukan apa yang dicari dan tercerahkan. Seorang ustadz di Amerika yang tadinya non muslim pernah ditanya oleh salah satu jama'ahnya, "apa yang anda lakukan jika anak anda menolak masuk Islam?". Dengan tenang ustadz itu menjawab, "sepanjang anak saya telah mencari apa itu Islam, Kristen, dan agama-agama yang lain, itu tidak masalah".
tetap terjaga, terlentang dipinggir pantai ada bintang, bulan, serta sepoi angin memanggil-manggil dan kau berulang kali menyebut nama ku entahlah, tapi aku berusaha tak mempedulikan
jauh-jauh kau datang dari kota dengan balutan kemewahan dunia celana mu yang pendek, ketiak mulus lengkap kau pertontonkan, menutup semua kekurangan wajah impian
beruntunglah saat itu malam jadilah kau sempurna, sedangkan aku? hanya bisa menahan nafsu dan dosa masih ku tutup telinga, panggilanmu berbisa
#makar2009 batu karas, uhuy
kok Ujian Nasional dapet nilai 10?, emang gak pernah diajarin pas waktu kecil, klo murid itu maksimal dapet 8, soalnya nilai 9 itu buat gurunya, dan 10 hanya milik Tuhan... ---------------------------------
Dulu pas hari-hari menjelang UAN (sekarang UN/Ujian Nasional) di SMA, saya pernah diajakin sama temen nyari bocoran soal. Katanya, klo mau dapet bocoran harus patungan biar bisa beli soal yang waktu itu harganya 2 juta. Entahlah itu temen maksudnya beneran apa nggak, tapi saya sih gak ikutan, soalnya saya waktu itu udah yakin sama kemampuan sendiri ditambah bantuan Tuhan Y.M.E. untuk dapet nilai rata-rata diatas 4 (batas kelulusan waktu itu) tanpa perlu pake bocoran segala. Lagian soal UN kan PG, tinggal cap-cip-cup,nilai 4 doang mah, gampil ,hehe...
Akhirnya sampe juga Hari-H. Dengan modal belajar dan berdo'a, hari UAN saya songsong dengan berangkat pagi-pagi, setengah 6 dari rumah, biasa naek mobil tebengan orang tua yg pengen ke kantor. Alhasil sampe sekolahan jam 6.15, sedangkan UAN baru mulai pukul 08.00. Masuk kelas, langsung duduk di bangku, buka-buka buku, belajar-belajar dikit. Eh gak lama, ada ribut-ribut : DI WC ADA BOCORAN WOI !!!
Dengan secepat kilat, WC bawah kelas IPS ramai pengunjung yang tentu saja bukan ingin pipis. Sebaliknya, kelas mendadak sepi, menyisakan saya dan beberapa teman yang masih belajar saja. Lima menit kemudian, mereka yang dari WC kembali dengan beberapa sobekan kertas kecil yang sudah terisi kunci jawaban. Dengan kesigapan maksimal, sobekan kecil itu langsung saya rebut, untuk kemudian saya salin di meja tempat saya duduk. Tiba-tiba ada teman berbisik, "Oi lod, nanti lo kalo ngisi jangan disamain semua yak, salah-salahain dikit, kan pada curiga nanti kalo anak2 IPS semua dapet 10, dapet 8 juga lumayan lod". "Sip,sip", jawab saya singkat.
Keesokan harinya ada ramai2: DI WC ADA BOCORAN LAGI WOI !!! hal yang sama kembali terulang sampai UAN selesai...
NB: Waktu saya lagi nunggu angkot pas udah pulang sekolah di hari pertama UAN, saya disamperin sama murid sekolah lain. Dia berujar "oi katanya di sekolah lo ada bocoran yak?, mau dong gw". Sepertinya sekolah saya sebegitu terkenalnya, haha... Ini ada link berita tentang tingkat kelulusan di Bali, gak ada hubungannya sih sama saya yang dulu SMA di Jakarta Timur, tapi gak ada salahnya kalo dibaca aja, semoga bermanfaat :
 | Pintar | May 13, '11 1:55 PM for everyone |
Okelah, klo sekarang ada yang telah menyelesaikan pendidikan s2 atau bahkan s3 nya sekalipun. Mereka, orang-orang dengan gelar di belakang namanya itu pastilah pintar. Ya, minimal pintar dalam ukuran akademis. Mempunyai gelar, berarti sudah menyelesaikan sebuah penilitan. Sulit memang tapi demi kebanggaan, semuanya harus dilakukan.
Dengan kekuatan gelar dan terdorong sedikit rasa KEMANUSIAAN, mulailah mereka itu masuk ke kampung, naik ke gundukan sampah, ke dalam gorong-gorong selokan, bahkan ikut menceburkan diri ke kubangan kerbau. Kemudian dengan begitu mereka seolah terlihat sama dengan yang kampungan. Lalu mereka mulai berbicara tentang penilitiannya, katanya sih Sosialisasi (menjadikan yang teori itu praktik kenyataan). Mereka mulai menyebut kata Globalisasi, Reformasi, Nasionalisasi, Moderenisasi, Inflasi. Semuanya adalah kata-kata yang keren, khas lulusan universitas, dan yang terpenting adalah terdengar pintar. Bagi orang kampung sih, hanya terdengar akhirannya saja, ASI yang kerena tumpukan kotoran telinga, terpeleset menjadi NASI. Itu saja, sebenarnya sudah cukup dapat menggajal perut yang keroncongan dan harapannya nanti akan bisa mengenyangkan. Di tengah kelaparan dan dahaga berlebihan seperti ini, yang paling utama memang makanan. Percuma orang-orang pintar itu membusa-busakan mulut, toh hanya 4 kata lagi yang terdengar di telinga si kampungan : NASI.
#Nasi dulu baru janji
Pada 1926-an, ada sebuah organisasi yang namanya Perhimpunan Indonesia (PI). Organisasi tersebut menjadi tempat berkumpul dan "wajan aspirasi" pelajar-pelajar Indonesia di Belanda. Mohammad Hatta sang Wakil Presiden pertama RI, bahkan pernah menjabat sebagai ketua PI. Gebrakan-Gebrakan PI saat itu sungguhlah banyak dan bermanfaat untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Misalnya saat diadakannya Kongres Demokrasi Internasional di Prancis yang dihadiri 31 bangsa, PI menuntut pengakuan sidang untuk mempergunakan kata "Indonesia" sebagai pengganti "Hindia-Belanda". Hasilnya, saat ini nama Indonesia lah yang dipakai untuk negara kita dan diakui oleh seluruh dunia. Sekarang PI sudah tidak ada, entah kenapa?, mungkin karena kita sudah merdeka dan diakui kemerdekaannya. Penggantinya adalah PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) dan hebatnya lagi, PPI itu hadir hampir diseluruh negara yang ada pelajar Indonesianya (bukan hanya di Belanda saja). Namun keperkasaan PI yang berhasil menjadi salah satu alat perjuangan menuju Indonesia merdeka, nampaknya selama itu belum terlihat dalam PPI. Setidaknya saya jarang sekali mengetahui sumbangsih PPI menjadikan Indonesia ke arah yang lebih baik.Mungkin itu karena saya juga yang tidak berusaha mencari informasi tentang PPI. Jadinya, anggapan saya terhadap PPI hanya sebatas organisasi pelajar indonesia (tidak lebih). Baru pada beberapa hari lalu, ketika sedang ramai-ramainya berita tentang komisi 8 DPR RI yang kebingungan ketika ditanya alamat emailnya saat "pelesir" ke Australia. Dari situ, saya jadi tahu kalau PPI itu ternyata hebat juga (terutama PPI-Australia). PPI-Australia, saya anggap hebat karena bisa mengajukan pertanyaan yang dapat membuat wakil rakyat terlihat bodoh,haha... setidaknya itu merupakan sentilan dari pelajar Indonesia pada wakil rakyatnya. Selain itu, kehebatan PPI yang lain adalah berhasil merekam adegan bodohnya wakil rakyat tersebut dengan baik. Sehingga media-media di Indonesia dapat mempublikasikannya. Video panjang dialog komisi 8 DPR dengan PPI-Australia bisa dilihat di : 1. http://www.youtube.com/watch?v=1zLiCaZvYeI&feature=related2. http://www.youtube.com/watch?v=LBoerEepdV0&feature=related3. http://www.youtube.com/watch?v=myB8np1-sEY&feature=related4. http://www.youtube.com/watch?v=O-U10BDzqig&feature=related5. http://www.youtube.com/watch?v=0kFDkauEBxY&feature=relatedNah kalo yang ini video pendeknya, selamat mencermati kebodohan wakil rakyat kita :
 | Guestbook | |
 | SABUDI 'sastra budaya indonesia' mari kita jaga bersama! |
 | alhamdulillah ga, silahkan dan semoga dapat menikmati |
 | coy... sehat2 coy? kampus aman? ikut baca2 dulu yak. |
 | hey, thx udah mampir. hehe ;) |
 | sama-sama,,kembalianny ambil aja.. :D:D:D |
 | anda merasa lapar???
silahkan kunjungi blog kami..
bukanberitabiasa
Rasa lapar dijamin makin lapar!!!!! |
 | Salam kenal Baghendra! Mampir-mampir dan komentar-komentar yah ke halaman WACANA KITA! Makasih.. |
| |